Thursday, March 20, 2014

Belajar tertawa lagi...

No one cares how much you know, until they know how much you care - Theodore Roosevelt

Tadi malam saya terenyuh melihat pramugara kereta api eksekutif jurusan Gambir - Pasar Turi yang begitu kesulitan membuka pintu gerbong. Saya pun hanya bisa melihat bagaimana mas2 itu berusaha membuka pintu, soalnya sebelumnya saya juga mengalami kesulitan membukanya. Mas2 itu sampai meletakkan nampan bawaannya dan dengan kedua tangannya berusaha sekuat mungkin menarik handel pintu.
Sementara itu selagi mas2 pramugara itu berusaha membuka pintu, saya mendengar dua penumpang laki-laki yang tertawa menyaksikan pramugara yang kesusahan itu. Seorang bapak datang membantu tetapi juga tidak berhasil. Saya hanya bisa menanggung keinginan untuk membantu tetapi tak mampu.
Bukan maksud saya menjelek-jelekkan penumpang yang menertawakan pramugara itu, tetapi kok ya tega sih menertawakan orang yang kesusahan; bukannya malah membantu? Peristiwa yang mirip sudah saya posting beberapa waktu lalu dan pokoknya sama. Apa ya kita bisa belajar tertawa dan menempatkan tawa kita pada tempat atau suasana yang tepat?

Saturday, March 15, 2014

Senyum dokter yang mengubah...

Memang repot kalau pindahan... Dengan kerjaan baru yang mengharuskan rajin melancong, alias sales, ada banyak pengalaman yang ingin kubagikan... Tapi sayang tangan ini tidak bisa digerakkan. Mungkin karena terlalu stress atau karena memang kurang berbagi kerja pada tangan kiri. Maka tangan kanan beberapa hari kuistirahatkan.

Seminggu setelah istirahat tangan kanan, sembuh... Gantian tangan kiri yang kena coblos jarum infus. Bekas langkah tusukannya masih membiru... Bener-bener kudu istirahat nih tangan... Apa ya itu berarti harus brenti kerja? Tawaran menarik... Tapi ga asik, hehe... mau makan apa... Kucoba pelan2 ngerjain pekerjaan rumah..sukur bisa ngetik juga... Emang gampang mana sih? Kerjaan rumah dengan ngetik? Sama2 enteng kalo tangan ga lagi mogok...hahaha... Bulan ini pikirku masa puncaknya kudu setoran ke rumah sakit. Gapapa lah... Dah lama juga ga setor muka ke dokter...


Aku jadi inget film Patch Adam, aktornya Robin William yang kocak itu. Ketika aku diinfus jam 2 pagi di ruang gawat darurat di sebuah kota kecil... Aku sangat meragukan pelayanan yang diberikan termasuk peralatan yang digunakan. Namun senyum manis ibu dokter dan beberapa perawat dapat menenangkan hatiku... Mereka cekatan menolongku. Kesan kumuh jadi sedikit berkurang. Aku menyalahkan mata dan rasaku yang terlalu sok bersih... Di tempat yang sederhana ini aku istirahat dalam damai sejenak. Dalam mimpiku ada sosok ibu dokter yang cekatan dan murah senyum. 4 jam saja infus menemaniku... Kemudian aku pamit untuk kerja kembali. Terima kasih bu dokter...

Saturday, March 1, 2014

Perfect in imperfection

aku merasa punya banyak kekurangan… tapi itu tidak merisaukanku… karena aku tau engkau selalu bersamaku…persembahan kecilku adalah sebuah senyum untukmu…