Learning how to learn is the most precious thing we have in life -- John Naisbitt.
Di
lampu merah plengkung gading ketemu keluarga turis yang berjalan kaki;
sepasang suami istri kayaknya n satu anaknya yang masih kecil. Aneh aja
kok ya mau-maunya jalan kaki padahal debu vulkanik masih belum beres.
Anak kecil itu jatuh dan gerakan jatuhnya emang lucu, beberapa orang di
sekitar itu ketawa. Anaknya sendiri meringis kesakitan karena tangannya
tergores konblok. Tapi kedua orang tuanya di dekatnya cuma ngeliat anak
mereka ini, ga tertawa ga keliatan marah, cuma ngeliat. Si ibu omong
sesuatu tapi saya ga nangkep jelas suaranya. Anak itu ga nangis, tapi
bangun, bersihkan bajunya dr debu n ngelus-elus tangannya, lalu lanjut
jalan.
Emang tertawa itu sehat, tapi menertawakan orang yang kena
sial itu kayaknya ga jadi bagian kultur bule tadi. Kenapa ya reaksi
spontan orang indo justru ketawa kalau liat orang lain ketiban sial?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment