Thursday, February 20, 2014

Belajar tertawa

Learning how to learn is the most precious thing we have in life -- John Naisbitt.
iphone
Di lampu merah plengkung gading ketemu keluarga turis yang berjalan kaki; sepasang suami istri kayaknya n satu anaknya yang masih kecil. Aneh aja kok ya mau-maunya jalan kaki padahal debu vulkanik masih belum beres. Anak kecil itu jatuh dan gerakan jatuhnya emang lucu, beberapa orang di sekitar itu ketawa. Anaknya sendiri meringis kesakitan karena tangannya tergores konblok. Tapi kedua orang tuanya di dekatnya cuma ngeliat anak mereka ini, ga tertawa ga keliatan marah, cuma ngeliat. Si ibu omong sesuatu tapi saya ga nangkep jelas suaranya. Anak itu ga nangis, tapi bangun, bersihkan bajunya dr debu n ngelus-elus tangannya, lalu lanjut jalan.
Emang tertawa itu sehat, tapi menertawakan orang yang kena sial itu kayaknya ga jadi bagian kultur bule tadi. Kenapa ya reaksi spontan orang indo justru ketawa kalau liat orang lain ketiban sial?

No comments:

Post a Comment