Wednesday, October 2, 2013

Tabrak Lari

Baru aja beberapa hari lalu terheran-heran dengan kelompok pesepeda tiap Jumat terakhir, sekarang lebih heran lagi dengan peristiwa tabrak lari. Bukan orang yang nabrak trus lari itu yang mengherankan. Kalo itu sih biasa... orang yang ga tanggung jawab itu ada banyak. Ada yang di posisi atas, ada yang di posisi bawah, ada sopir tronton, ada sopir truk, ada pengendara motor, mobil dan lain2. Nah ini giliran korbannya anak yang ikutan JLFR itu.
Bagas
Komentar2 di facebook itu memang kadang jadi hiburan juga. Di gips si Bagas ini emang ada kampanye, tapi ini bukan kampanye parpol yang ujung2nya demi anggota2 parpolnya. Tulisan di gips ini mengingatkan kalo komunitas JLFR itu emang punya kepedulian konkret. Katanya dana terkumpul sekitar satu setengah juta. Ini bukan angka sedikit loh untuk kelompok yang ikatannya ga seperti ikatan keanggotaan parpol. Mereka ga perlu bayar macem2 untuk join. Untuk Bagas pun pastinya ga ada yang maksa supaya mereka kasih duit berapa.
Itu yang bikin aku terheran2. Dari mana datangnya solidaritas kayak gitu, cari muka rasanya ga mungkinlah, pencitraan ala presiden apa lagi. Tapi gimana orang2 yang cuma karena hobi yang sama bisa bikin solidaritas itu keliatan.

Saturday, September 28, 2013

Civil Society: Self-Service

Malam ini aku dihibur oleh rombongan orang yang naik sepeda di jalan Solo. Dari arah Amplaz di sebelah kiri mobilku tiba-tiba nongol sepeda yang setinggi bis tingkat... ternyata di belakangnya ada sepeda2 lain yang bentuknya juga aneh... ada yang malah keliatan kayak kayu dikasih roda. Tapi yang mengejutkan, mereka ini jumlahnya lumayan banyak. Aku ga ngerti kukira ada demo, tapi kenapa ya malam2 gini n pake sepeda n gada banner apa-apa.
Ternyata mereka itu dah lama bikin kegiatan sepedaan jumat malam.
Aku belum cari tau siapa founding fathers kelompok ini, tapi aku salut. Ga tau apa di kota lain ada gerakan seperti ini. Kelompok ini kayaknya dah jalan sekitar setahun. Apa ini gejala Jogja juga kekurangan ruang publik?

Sunday, June 23, 2013

Bahasa: Kesepakatan

Waktu masih tinggal di metropolitan, aku punya teman yang alim setengah mati tapi akhirnya dia terpengaruh juga dengan makian teman-teman. Dikit-dikit kita mengumpat dengan nama binatang (kenapa juga ga pake nama tumbuhan ya...): anjing (lu)! Kebiasaan mendengar kata itu keknya bikin dia juga ikut-ikutan mulai memakai kata itu. Tapi lucunya, dia itu emang dasarnya alim, ga bisa dia bilang anjing... nah pas dia dah omong anjiii.... keknya dia trus nyadar, trus ga bilang anjiiiing... tapi bilang anjiiiiirrrr....
Abis itu temen2 lain yang rada2 alim juga akhirnya malah ikutan omong anjir daripada nyebut anjing. Ada yang lain ganti jadi anjrit...
Nah kalo di Jogja ini umpatan tadi (bahasa Jawanya: pisuhan) jadi asu. Ga tau ya kenapa anjing itu populer di mana-mana. Kenapa sih anjing dipake untuk mengumpat?
Nah di Jogja ini ada bahasa yang lucu dan menarik. Orang sering bilang ini bahasa walikan, dibalik. Apanya yang dibalik? Nah ini aksara Jawa yang kudapat dari sini.
aksara
Nah itu kan ada hanacaraka datasawala padhajayanya magabathanga. Barisnya hanacaraka itu ditukar dengan baris padhajayanya. Baris datasawala ditukar dengan magabathanga. Jadinya kalo kita mau omong kulonuwun jadi nyungodhuthut hahaha....
Yang dulu sering kudengar itu jape methe...cahe dewe... tapi ga tau apa itu betul. Jadinya banyak yang lucu kalau denger ada anak-anak muda yang omong basa walikan itu. Tapi katanya sekarang dah jarang dipake: bubap... haha... susah. Apa anak sekarang mau susah ya? Trendnya kan malah makin gampang makin baik... tapi kukira sih tergantung tujuannya juga; mungkin bahasa walikan ini baik juga untuk membentuk peer group, bikin komunitas dengan bahasa-bahasa tertentu yang mereka sepakati.